Distribusi Kompleks Bahan Bakar Solar Di Indonesia

Kepala Badan Pengatur Hilir  Minyak dan gas Bumi (BPH MIGAS), Andy Noorsaman Someng, menuturkan bahwa ada kerumitan dalam pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) di negara kepulauan seperti Indonesia, dengan bentang Pulau sebanyak 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke. Pendistribusian yang sangat sulit ini membutuhkan supply chain management yang memiliki pemikiran yang sangat rumit. Titik supply dan titik destinasi pun di Indonesia terdapat pada wilayah yang berbeda. Titik supply rata-rata ada di bagian barat dari pada Indonesia. Sedangkan, titik destinasi atau titik-titik yang banyak mengkonsumsi menyebar ke seluruh Indonesia dari timur hingga barat. Ditambah lagi banyak daerah yang memang agak sulit untuk dijangkau.

Di titik destinasi tersebut dibutuhkan banyak infrastruktur yang diperuntukkan sebagai penyimpanan dalam rangka menerima BBM yang diambil dari titik supply baik itu di pulau Jawa, Sumatera atau Kalimantan. Bila daerah konsumen tersebut masih dalam kategori tertinggal artinya perlu dibangun terlebih dahulu infrastruktur yang setidaknya mumpuni untuk menerima BBM yang didistribusikan dari distributor.

Ada 3 syarat yang harus dipenuhi untuk menuju kemandirian energy, yaitu aksesibilitas (infrastruktur), daya beli dan ketersediaan energy. Berbagai sarana dan prasarana seperti pipa ruas transmisi dan terminal perminyakan masih harus diperbaiki agar pendistribusian BBM lebih merata. Alasan kalsik yang terjadi sampai saat ini, karena lokasi beberapa pulau minim BBM tidak strategis sehingga pendistribusian bahan bakar minyak / solar ke tempat tujuan kerap memakan waktu dan biaya yang lebih besar. Namun, sudah tanggung jawab pemerintah dan para distributor sebagai pebisnis di sektor perminayakan untuk meminimalisir hal ini.

Categories