Tantangan Pengelolaan Migas Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi Asean

Indonesia menjadi salah satu Negara dengan kekayaan minyak dan gas (migas) terbesar di dunia. Menurut Laporan Tahunan BP Migas (2010), cadangan minyak bumi Indonesia yang telah terbukti berjumlah 4,23 MMSTB (Million Stock Tank Barrel) dan cadangan gas Indonesia yang mencapai 108 TSCF (Trillion Standard Cubic Feet). Belum lagi dengan temuan terbaru dari SKK Migas (2014) yang menyatakan telah menemukan cadangan potensial baru sebesar 43,7 MMSTB, yang sebagian besar berada di wilayah off-shore (laut dalam). Indonesia terbukti memiliki cadangan minyak bumi sebesar 0.4% dari seluruh cadangan minyak bumi dunia. Tidak mengherankan bila migas menjadi komoditas ekspor terpenting bagi Indonesia dan tidak terbantahkan lagi bahwa migas menjadi sumber pendapatan yang cukup besar bagi negara Indonesia.

Dalam menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai pada akhir 2015, dimana negara-negara ASEAN dapat melakukan perdagangan secara bebas. Urgensi ini menuntut Indonesia untuk memperbaiki kualitas ekonomi yang menuntut adanya efisiensi dan daya saing dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Yang tercermin dalam empat (4) hal berikut. Pertama, ASEAN sebagai aliran bebas barang, bebas jasa, bebas investasi, bebas tenaga kerja terdidik, dan bebas modal (single market and production base); Kedua, ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing tinggi (a highly competitive economic region); Ketiga, ASEAN sebagai kawasan dengan pengembangan ekonomi yang merata dengan elemen pengembangan usaha kecil menengah (a region of equitable economic development); Keempat, ASEAN sebagai kawasan terintegrasi (a region fully integrated in to the global economy). Beranjak dari tinjauan MEA di atas, muncul dampak dalam pengelolaan migas agar Indonesia lebih kompetitif dengan negara ASEAN lainnya, terutamA di bidang teknologi. Teknologi ekplorasi migas di Indonesia pada saat ini, baik dalam kegiatan eksplorasi migas di darat(on-shore), lepas pantai(off-shore) maupun laut dalam (deep water), dipegang oleh Pertamina, PGN dan BUMN lainnya. Dalam hal on-shore Indonesia dengan Pertaminanya yang memiliki tenaga ahli, sudah mampu mendeteksi dan mengeksplorasi migas di darat tanpa hambatan. Bahkan, menyatakan mampu tanpa menyertakan permodalan asing. Blok Cepu merupakan hasil kinerja yang menunjukkan suksesnya perusahaan Migas di Indonesia dalam hal on-shore. Sedangkan, dalam hal Off-Shore, Indonesia dengan perusahaan migas lokalnya dianggap kurang mampu mengelola baik dalam segi teknologi maupun permodalan. Akhirnya, pemerintah lebih mempercayakan kegiatan ekplorasi lepas pantai dan laut dalam kepada perusahaan migas asing seperti Kodeco dari Korea Selatan yang mengelola Blok Migas West Madura dan British Petroleum yang mengelola Off-shore North West Java (ONWJ). Namun, karena desakan berbagai pihak akhirnya pemerintah mengakhiri kontrak dengan perusahaan asing tersebut dan mempercayakan eksplorasi off-shore blok migas tersebut kepada perusahaan migas lokal seperti Pertamina, dan terbukti perusahaan migas lokal bukan hanya mampu melakukan ekplorasi migas di blok tersebut, bahkan mampu meningkatkan produksi minyak yang tadinya hanya 21.000 barel per hari menjadi 30.000 barel per hari.

Bila melihat keadaan pengelolaan sektor migas Indonesia dan kaitannya dengan kesiapan menghadapi MEA, jelas menimbulkan ancaman eksistensi pendapatan Negara dari sektor migas tersebut. Indonesia masih kalah saing dengan Malaysia dan Singapura dalam pengelolaan migas baik dalam hal sumber daya, teknologi maupun kebijakan pemerintah Negara setempat dalam mengatur pengelolaan migas dan permodalan asing untuk sektor migas. Malaysia dalam pengelolaan Migas dipegang penuh oleh Petronas sebagai Perusahaan pengelola Migas Malaysia. Sedangkan, beberapa pengelolaan yang tidak mampu dikendalikan oleh Petronas, maka diserahkan kepada pihak lain dengan sebuah bentuk kontrak yang ketat dan jelas.

Untuk itu, Indonesia dalam menyongsong MEA perlu melakukan perbaikan dalam sektor migas yang melingkupi peningkatan teknologi yang canggih dan mutakhir serta Sumber Daya Manusia yang kualitas dan mumpuni serta siap berdaya saing dengan ekspatriat asing bila nanti ditempatkan di luar Indonesia maupun bersaing dengan ekspatriat asing yang masuk ke Indonesia. Indonesia harus siap menghadapi MEA 2015 dan bersatu memainkanperan yang lebih tinggi dalam peta geopolitik di kawasan Indonesia termasuk bidang energi guna membangun ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas kawasan dan dunia.

Categories